Air di Dalam Botol Nestle dan Aqua Mengandung ‘Partikel Plastik’

23 Mar

Investigasi terhadap bermacam-macam merk minuman kemasan mengungkapkan bahwa air di dalam botol Nestle Pure Life dan Aqua Danone mengandung partikel plastik. Kedua merk tersebut hanya lah sebagian dari 11 merk minuman kemasan taraf dunia dan juga lokal yang telah diuji. Bahkan, merk San Pellegrino dan Evian tidak luput dari temuan partikel plastik itu. “Kami menemukan (plastik) di dalam botol demi botol dan merk demi merk,” ungkap Sherri Mason, seorang profesor kimia dari State University of New York yang mana dilibatkan dalam investigasi dilansir dari BBC Indonesia.

“Ini bukanlah soal mencari kesalahan merk Gadispoker tertentu. Ini benar-benar ingin menunjukkan bahwa hal itu ada di mana-mana, bahwa plastik mejadi materi yang sudah menyebar di masyarakat kita dan juga bisa menembus air. Semua produk ini adalah produk-produk yang kita konsumsi pada level mendasar,” ungkapnya lagi.

Saat ini memang tidak ada bukti bahwa mencerna plastik dalam wujud sangat kecil Misalnya mikroplastik bisa menimbulkan penyakit pada tubuh. Akan tetapi memahami potensi dari dampaknya adalah bidang yang mana dikaji dalam sains. “Yang kita tahu sekarang ini adalah beberapa dari partikel ini cukup besar sehingga saat dicerna partikel tersebut mungkin dikeluarkan dari dalam tubuh. Namun sepanjang perjalanan di dalam tubuh, mereka bisa melepaskan zat kimia yang mana bisa menyebabkan dampak untuk kesehatan manusia,” papar Profesor Mason.

Partikel Berbahaya

“Sebagian partikel ini memang luar biasa kecilnya sehingga mereka dapat masuk ke usus di perut, menyusurinya, dan akhirnya dibawa ke seluruh tubuh. Kami tak tahu implikasinya ataupun apa artinya untuk berbagai organ tubuh kita,” imbuhnya lebih lanjut. Investigasi terhadap bermacam merk minuman kemasan dipimpin oleh sebuah organisasi jurnalisme bernama Orb Media.

Dan untuk meneliti kandungan plastik yang ada di dalam botol air, organisasi tersebut juga bekerja sama dengan State University of New York di AS.

Klarifikasi Pihak Nestle dan Danone

BBC juga sudah menghubungi beberapa merk yang mana disebutkan dalam investigasi tersebut. Nestle menyatakan bahwa telah memulai uji mikroplastik secara internal sejak 2 tahun lalu dan hasilnya plastik tak dideteksi ‘di atas level pendeteksian’.

Seorang jubir Nestle juga menambahkan bahwa kajian Profesor Mason luput dalam beberapa hal yakni langkah kunci untuk menghindari “hasil positif yang salah.” Ia pun mengatakan pihaknya mengundang orb Media guna membandingkan metode.

Secara terpisah, Danone juga mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengomentari kajian itu karena “metodologi yang digunakan tak jelas”. Mereka juga menegaskan botol yang digunakan mereka untuk menampung air masuk kategori “kemasan yang mana sesuai untuk makanan.”

Perusahaan tersebut menambahkan bahwa tak ada aturan yang pasti mengenai mikroplastik atau juga konsesus dalam sains untuk mengujinya.

Metode Pengujiannya

Untuk menguji partikel plastiknya, ilmuwan yang berasal dari State University of New York telah mendatangkan 250 air kemasan yang berasal dari 11 merk yang ada di 9 negara yang dipilih atas dasar besarnya populasi atau juga konsumsi air kemasan yang cukup atau relatif tinggi.

Merk-merk yang telah diuji da bertaraf internasional dan nasional tersebut adalah Aquafina, Evian, Dasani, San Pellegrino, Nestle Pure Life, Aqua (Indonesia), Epura (Meksiko), Bisleri (India), Wahaha (Cina), Gerolstiner (Jerman), dan Minalba (Brasil).

Pengujian tersebut sedikit gonjang-ganjing dan meresahkan masyarakat mengingat pihak perusahaan yang diklaim tak mau mengakui.

Gereja ‘Situs Suci Kristen’ ditutup: Protes untuk Israel

5 Mar

Pemimpin-pemimpin umat Kristen yang ada di Yerusalem mengambil langkah yang bisa dibilang tidak biasa: mereka menutup Gereja Makam Kudus untuk memprotes kebijakan pajak Israel yang baru dan juga usulan undang-undang properti yang juga dikeluarkan oleh mereka.

Mereka menyebut bahwa undang-undang tersebut adalah serangan pada orang-orang Kristen yang ada di Tanah Suci. Dan para pendukung dari RUU itu mengatakan kekhawatiran gereja tak berdasar. Sebagian umat Kristen pasalnya percaya bahwa Yesus disalibkan, dikuburkan dan juga dibangkitkan di komplek  gereja itu. tempat ini pasalnya dianggap sebagai tempat yang tersuci untuk umat Kristen dan juga menjadi tujuan utama peziarah-peziarah.

Mengapa Pemimpin Kristen Marah?

Para pemimpin Gereja Katolik Roma, dalam sebuah pernyataan bersama-sama, Ortodoks Yunani dan juga Armenia menuturkan bahwa gereja itu akan ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Dan protes itu muncul karena petinggi-petinggi Gereja pasalnya keberatan dengan undang-undang yang tengah dibahas pemerintah Israel yang mereka cemaskan adalah ini akan membuat negara mengklaim tanah milik gereja.

Para pemimpin gereja juga mengecap bahwa undang-undang tersebut sangat ‘mengerikan’ dan juga “mengingatkan kita semua pada hukum yang bersifat serupa yang diundangkan untuk menindas orang-orang Yahudi saat kegelapan Eropa.”

Pendukung-pendukung undang-undang tersebut mengatakan bahwasanya UU itu ada maksud untuk melindungi warga Israel yang mana tinggal di tanah milik Gereja yang telah dijual pada pengembang swasta dari risiko-risiko bahwa perusahaan-perusahaan togel online ini tak akan memperpanjang sewanya.

Sedangkan pemimpin-pemimpin Kristen ini mengatakan bahwa undang-undang yang mana diusulkan bakal hanya membuat lebih sulitnya untuk menjual tanah Gereja yang menjadi sumber dana yang utama oleh mereka. mereka juga pasalnya marah karena adanya upaya penerapan pajak property pada Gereja yang mana dipandang pihak berwenang di Yerusalem sebagai bangunan yang komersial.

Nir Barkat , Walikota Yerusalem, mengatakan bahwa kota itu memiliki piutang yang besarnya 650 juta shekel atau setara dengan Rp. 2,6 triliun untuk pajak yang tak tertagih atas aset-aset gereja. Dan ia juga menambahkan semua gereja dibebaskan dari perubahan-perubahan pajak ini dan hanya “hotel, tempat-tempat bisnis, dan ruang pertemuan yang dimiliki gereja yang bakal terdampak.”

Tanggapan Pemerintah Israel

Setelah adanya protes itu, komite cabinet Israel akhirnya menunda pembahasan rancangan undang-undang ini yakni selama 1 minggu. Dan anggota parlemen yang mana mengusulkan RUU itu, yakni Rachel Azaria, mengatakan, dilansir dari BBC Indonesia, “Saya mengerti bahwa Gereja ada di bawah tekanan. Akan tetapi tanah mereka bakal tetap menjadi milik mereka dan tak satu pun orang yang akan menyentuhnya sampai kapan pun,” ungkapnya.

“Undang-Undang yang saya usulkan ini ada kaitannya dengan apa yang terjadi apabila hak atas tanah itu dijual pada pihak ketiga,” imbuhnya. Kata-kata yang diucapkan oleh Azaria ini dianggap sebagai alasan atau suatu kalimat untuk menenangkan para pemimpin Kristen dan juga pihak Gereja saja. Ia juga mengatakan bahwa hanya tanah yang mana dijual oleh Gereja pada perusahaan real estate swasta setelah tahun 2010 saja yang akan kena dampaknya.

Sampai saat ini masalah ini masih menjadi polemik dan juga sorotan dunia. Bahkan beberapa orang beranggapan berbeda-beda atas keputusan yang akan dibuat oleh pemerintah Israel. Tidak hanya itu, ada juga yang membuat asumsi ada apa dengan Israel dan pemerintahannya dan juga apa yang akan terjadi pada Gereja tersebut.