‘LIMA’, Omnibus Pancasila Karya Lima Sutradara

4 Sep

Dalam kurun waktu 12 tahun terakhir ini, Lola Amaria sudah menelurkan lima film sebagai sutradara. Kebanyakan film-film aktris berusia 40 tahun itu memang mengusung drama dengan nilai kemanusiaan yang tinggi. Terbaru, Lola terlibat dalam omnibus yang mengangkat dasar negara Indonesia yakni Pancasila berjudul LIMA.

 

Sebagai film omnibus, LIMA rupanya menyuguhkan kisah result sgp berbeda mengenai sila-sila Pancasila lewat lima orang sutradara. Selain Lola, sineas yang terlibat adalah Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Adriyanto Dewo dan Harvan Agustriansyah. Dilansir detikHOT, Lola menjelaskan kalau LIMA memang punya cerita berbeda tapi berkaitan dalam satu plot besar. Para sutradara berbakat ini memang ingin memperlihatkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Pancasila itu bukannya untuk dihapal, tapi bagaimana kita bisa menggunakannya sehari-hari. Kita harus bisa menerima keberagaman, belajar toleransi dan musyawarah. Saat ini ada banyak orang yang tidak berperi-kemanusiaan seperti belum tentu mencuri sudah dihakimi, pasangan lagi makan langsung digerebek. Itu kan kehilangan akal sehat namanya. Nah LIMA ini berusaha untuk mendekatkan ke nilai-nilai Pancasila yang lekat dengan keseharian,” ungkap Lola panjang lebar.

 

Menyatukan lima sutradara yang berbeda, Lola pun tak menampik kalau dirinya cukup mendapatkan kesulitan. LIMA sendiri sudah dirilis sejak 1 Juni 2018 dan dibintangi oleh Prisia Nasution, Tri Yudiman, Baskara Mahendra, Yoga Pratama dan lainnya.

 

Prisia Nasution Akting Untuk Sila Ketiga

 

LIMA akan jadi film omnibus ketiga bagi aktris cantik Prisia Nasution. Sebelumnya perempuan berusia 33 tahun ini sudah terlibat dalam TAKUT: THE FACES OF FEAR (2008) dalam segmen The List dan RECTOVERSO (2013) pada segmen Malaikat Juga Tahu. Untuk LIMA, Prisia akan tampil di segmen sila ketiga Pancasila, Persatuan Untuk Indonesia.

 

Prisia berperan sebagai Fara, kakak tertua dari Aryo (Yoga Pratama) dan Adi (Baskara Mahendra). Mereka bertiga adalah anak dari Maryam (Tri Yudiman) yang meninggal dunia karena sakit. Perdebatan mulai terjadi saat pemakaman Maryam karena perempuan itu beragama Islam seperti Fara, sementara Aryo dan Adi beragama Kristen, seperti mendiang ayahnya. Perbedaan agama dan permasalahan masing-masing membuat kakak-beradik ini harus merenungi arti mereka dalam kehidupan.

 

‘LIMA’ Raih Banyak Pujian

 

Mengusung nilai-nilai Pancasila yang cocok ditonton remaja, LIMA rupanya banyak mendapatkan pujian. Terbaru, LIMA sudah ditonton oleh berbagai kelompok seperti Satu Indonesia Komunitas Perempuan Berkebaya, Komunitas Cinta Berkain, SMA Gonzaga, Ibu-Ibu KADIN, Ibu-Ibu CIRI, HIPMI, Gerakan Wadiyabala Jokowi, Alumi UI, GP Ansor, Tokoh Lintas Agama, Ibu-Ibu Bhayangkari hingga Menkeu Sri Mulyani beserta jajarannya.

 

Bukan tak mungkin kalau Lola akan membawa LIMA ke berbagai festival di luar negeri. Seperti film KISAH 3 TITIK (2013) dan LABUAN HATI (2017) yang tayang di acara Pemutaran Film dan Rangkaian Diskusi Dalam Semangat Kartini di Hannover, Jerman pada bulan April lalu. Berbeda dengan LIMA, dua karya Lola itu memang menggambarkan kehidupan perempuan Indonesia yang bekerja sebagai TKW dan bagaimana harus bisa mandiri mengatasi berbagai persoalan.

Bicara soal Lola, dirinya sebetulnya memulai debut akting lewat TABIR (2000). Setahun kemudian, dia disibukkan dengan MERDEKA 17805 (2001) yang merupakan sebuah film drama perang kolaborasi Rapi Films (Indonesia) dan Toho (Jepang). Lola kembali bersinar lewat BETH (2001), CA BAU KAN (2002) dan NOVEL TANPA HURUF ‘R’ (2003). Barulah pada 2006, Lola memulai langkah baru sebagai sutradara dalam BETINA.