Gereja ‘Situs Suci Kristen’ ditutup: Protes untuk Israel

5 Mar

Pemimpin-pemimpin umat Kristen yang ada di Yerusalem mengambil langkah yang bisa dibilang tidak biasa: mereka menutup Gereja Makam Kudus untuk memprotes kebijakan pajak Israel yang baru dan juga usulan undang-undang properti yang juga dikeluarkan oleh mereka.

Mereka menyebut bahwa undang-undang tersebut adalah serangan pada orang-orang Kristen yang ada di Tanah Suci. Dan para pendukung dari RUU itu mengatakan kekhawatiran gereja tak berdasar. Sebagian umat Kristen pasalnya percaya bahwa Yesus disalibkan, dikuburkan dan juga dibangkitkan di komplek  gereja itu. tempat ini pasalnya dianggap sebagai tempat yang tersuci untuk umat Kristen dan juga menjadi tujuan utama peziarah-peziarah.

Mengapa Pemimpin Kristen Marah?

Para pemimpin Gereja Katolik Roma, dalam sebuah pernyataan bersama-sama, Ortodoks Yunani dan juga Armenia menuturkan bahwa gereja itu akan ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Dan protes itu muncul karena petinggi-petinggi Gereja pasalnya keberatan dengan undang-undang yang tengah dibahas pemerintah Israel yang mereka cemaskan adalah ini akan membuat negara mengklaim tanah milik gereja.

Para pemimpin gereja juga mengecap bahwa undang-undang tersebut sangat ‘mengerikan’ dan juga “mengingatkan kita semua pada hukum yang bersifat serupa yang diundangkan untuk menindas orang-orang Yahudi saat kegelapan Eropa.”

Pendukung-pendukung undang-undang tersebut mengatakan bahwasanya UU itu ada maksud untuk melindungi warga Israel yang mana tinggal di tanah milik Gereja yang telah dijual pada pengembang swasta dari risiko-risiko bahwa perusahaan-perusahaan togel online ini tak akan memperpanjang sewanya.

Sedangkan pemimpin-pemimpin Kristen ini mengatakan bahwa undang-undang yang mana diusulkan bakal hanya membuat lebih sulitnya untuk menjual tanah Gereja yang menjadi sumber dana yang utama oleh mereka. mereka juga pasalnya marah karena adanya upaya penerapan pajak property pada Gereja yang mana dipandang pihak berwenang di Yerusalem sebagai bangunan yang komersial.

Nir Barkat , Walikota Yerusalem, mengatakan bahwa kota itu memiliki piutang yang besarnya 650 juta shekel atau setara dengan Rp. 2,6 triliun untuk pajak yang tak tertagih atas aset-aset gereja. Dan ia juga menambahkan semua gereja dibebaskan dari perubahan-perubahan pajak ini dan hanya “hotel, tempat-tempat bisnis, dan ruang pertemuan yang dimiliki gereja yang bakal terdampak.”

Tanggapan Pemerintah Israel

Setelah adanya protes itu, komite cabinet Israel akhirnya menunda pembahasan rancangan undang-undang ini yakni selama 1 minggu. Dan anggota parlemen yang mana mengusulkan RUU itu, yakni Rachel Azaria, mengatakan, dilansir dari BBC Indonesia, “Saya mengerti bahwa Gereja ada di bawah tekanan. Akan tetapi tanah mereka bakal tetap menjadi milik mereka dan tak satu pun orang yang akan menyentuhnya sampai kapan pun,” ungkapnya.

“Undang-Undang yang saya usulkan ini ada kaitannya dengan apa yang terjadi apabila hak atas tanah itu dijual pada pihak ketiga,” imbuhnya. Kata-kata yang diucapkan oleh Azaria ini dianggap sebagai alasan atau suatu kalimat untuk menenangkan para pemimpin Kristen dan juga pihak Gereja saja. Ia juga mengatakan bahwa hanya tanah yang mana dijual oleh Gereja pada perusahaan real estate swasta setelah tahun 2010 saja yang akan kena dampaknya.

Sampai saat ini masalah ini masih menjadi polemik dan juga sorotan dunia. Bahkan beberapa orang beranggapan berbeda-beda atas keputusan yang akan dibuat oleh pemerintah Israel. Tidak hanya itu, ada juga yang membuat asumsi ada apa dengan Israel dan pemerintahannya dan juga apa yang akan terjadi pada Gereja tersebut.